Senin, 15 Juli 2013

Dampak Inflasi

Inflasi tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian. Inflasi yang terkendali justru dapat meningkatkan kegiatan perekonomian. Berikut ini adalah akibat-akibat yang ditimbulkan Inflasi terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.
a. Dampak Inflasi terhadap Pendapatan
Inflasi dapat mengubah pendapatan masyarakat. Perubahan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Pada beberapa kondisi (kondisi infasi lunak), inflasi dapat mendorong parkembangen ekonomi. Inflasi dapat mendorong para pengusaha memperluas produksinya. Dengan demikian, akan tumbuh kesempatan kerja baru sekaligus bertambahnya pendapatan seseorang. Namun, bagi masyarakat yang berpenghasilan tetap Inflasi akan menyebabkm mereka rugi karena penghasilan yang tetap itu jika ditukarkan dengan barang dan jasa akan semakin sedikit. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi berikut! Sebelum infiasi, orang yang menerima penghasilan Rp 100.000 dapat membeli 100 kg beras seharga Rp 1000,00 per kg. Karna inflasi, maka harga beras yang semula naik, menjadi Rp 1.250,00 per kg. Oleh karena nilai beli uang Rp 100.000,00 jika ditukarkan dengan beras kini hanya menjadi 80 kg. Dari ilustrasi tersebut, diketahui ada penurunan nilai tukar sebesar 20 kg (100 kg — 80 kg). Sebaliknya, orang yang berutang akan beruntung. Anggaplah seorang petani mempunyai utang Rp100.000,00. Sebelum Inflasi, petani itu harus menjual beras 100 kg untuk membayar utangnya. Tetapi setelah inflasi harga beras menjadi Rp 1.250,00 per kg, sehingga petani tersebut cukup menjual 80 kg untuk membayar utangnnya sebesar Rp 100.000,00.

2. Dampak Inflasi terhadap Ekspor
Pada keadaan Inflasi, daya saing untuk barang ekspor berkurang. Berkurangnya daya saing terjadi karena harga barang ekspor makin mahal. Masi dapat menyulitkan para eksportir dan negara. Negara mengalami kerugian karena daya saing barang ekspor berkurang, yang mengakibatkan jumlah penjualan berkurang. Devisa yang diperoleh juga semakin kecil.

3.Dampak Inflasi terhadap Minat Orang untuk Menabung
Pada masa inflasi, pendapatan rill para penabung berkurang karena jumlah bunga yang diterima pada kenyataannya berkurang karena laju Inflasi. Misalnya, bulan Januari tahun 2006 seseorang menyetor uangnya ke bank dalam bentuk deposit dalam satu tahun. Deposito tersebut menghasilkan bunga sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila tingkat Inflasi sepanjang Januari 0006 — Januari 2007 cukup tinggi, katakanlah 11%, maka pendapatan dari uang yang didepositokan tinggal 4%. Minat orang untuk membung akan berkurang.



Teori Perencanaan Pembangunan Daerah

Teori Perencanaan Pembangunan Daerh

Dalam konteks pelaksanaan pembangunan daerah, sesuai dengan peran pemerintah daerah dalam era otonomi luas, perencanaan pembangunan daerah diperlukan karena pelaksanaan pembangunan didesentralisasikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Sebelum menjelaskan tentang perencanaan pembangunan daerah, perlu dipahami terlebih dahulu perencanaan pembangunan. Riyadi, Deddy Supriady Bratakusumah (2004 ; 6) mengatakan perencanaan pembangunan merupakan suatu tahapan awal dalam proses pembangunan. Sebagai tahapan awal, perencanaan pembangunan akan menjadi bahan/pedoman/acuan dasar bagi pelaksanaan kegiatan pembangunan (action plan).

Menurut Sjafrizal (2009; 15), secara umum perencanaan pembangunan adalah cara atau teknik untuk mencapai tujuan pembangunan secara tepat, terarah, dan efisien sesuai dengan kondisi negara atau daerah bersangkutan. Karena itu perencanaan pembangunan hendaklah bersifat implementif (dapat dilaksanakan) dan aplikatif (dapat diterapkan).

Kemudian ML Jhingan (1984) dalam Sjafrizal (2009; 16) seorang ahli perencanaan pembangunan bangsa India memberikan definisi yang lebih kongkrit mengenai Perencanaan Pembanguna tersebut, yaitu ; ”Perencanaan Pembangunan pada dasarnya adalah merupakan pengendalian dan pengaturan perekonomian dengan sengaja oleh suatu penguasa (pemerintah) pusat untuk mencapai suatu sasaran dan tujuan tertentu di dalam jangka waktu tertentu pula.

Kegiatan perencanaan pembangunan pada dasarnya merupakan kegiatan riset/ penelitian, karena proses pelaksanaannya akan banyak menggunakan metode-metode riset, mulai dari teknik pengumpulan data, analisis data, hingga studi lapangan/kelayakan dalam rangka mendapatkan data-data yang akurat, baik yang dilakukan secara konseptual/dokumentasi maupun eksperimental.

Perencanaan pembangunan tidak mungkin hanya dilakukan diatas meja, tanpa melihat realita dilapangan. Data-data real lapangan sebagai data primer merupakan ornamen-ornamen penting yang harus ada dan digunakan menjadi bahan dalam kegiatan perencanaan pembangunan.

Dengan demikian perancanaan pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses perumusan alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkan pada data-data dan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu rangkaian kegiatan/aktivitas kemasyarakatan, baik yang bersifat fisik (material) maupun non fisik (mental dan spiritual), dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik.

Dalam hubungannya dengan suatu daerah sebagai area (wilayah) pembangunan dimana terbentuk konsep perencanaan pembagunan daerah (Riyadi, Deddy Supriadi Bratakusumah ; 2004 : 7) dapat dinyatakan bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses perencanaan yang dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah dan lingkungannya dalam wilayah/daerah tertentu dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber daya yang ada dan harus memilki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap, tetapi tetap berpegang pada azas prioritas.

Berarti, Perencanaan Pembangunan Daerah (PPD) akan membentuk tiga hal pokok yang meliputi : perencanaan komunitas, menyangkut suatu area (daerah), dan sumber daya yang ada di dalamya. Pentingnya orientasi holisti dalam perencanaan pembangunan daerah, karena dengan tingkat kompleksitas yang besar tidak mungkin kita mengabaikan masalah-masalah yang muncul sebagai tuntutan kebutuhan sosial yang tak terelakkan. Tetapi dipihak lain adanya keterbatasan sumberdaya yang dimiliki tidak memungkinkan pula untuk melakukan proses pembangunan yang langsung menyentuh atau mengatasi seluruh permasalahan dan tuntutan secara sekaligus. Dalam hal inilah penentuan prioritas perlu dilakukan, yang dalam prakteknya dilakukan melalui proses perencanaan.

Melakukan perencanaan pembangunan daerah berbeda dengan melakukan perencanaan proyek atau perencanaan-perencanaan kegiatan yang bersifat lebih spesifik dan mikro. Proses perencanaan pembangunan daerah jauh lebih kompleks dan rumit, karena menyangkut perencanaan pembangunan bagi suatu wilayah dengan berbagai komunitas, lingkungan dan kondisi sosial yang ada didalamnya. Apalagi bila mencakup wilayah pembangunan yang luas, kultur sosialnya amat heterogen, dengan tingkat kepentingan yang berbeda. Berdasarkan uraian-uraian diatas, dapat diartikan bahwa ; perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber-sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertetu.

Sedangkan oleh Affandi Anwar dan Setia Hadi dalam Riyadi (2004 ; 8) mengatakan perencanaan pembangunan wilayah diartikan sebagai suatu proses atau tahapan pengarahan kegiatan pembangunan disuatu wilayah tertentu yang melibatkan interaksi antara sumberdaya manusia dengan sumberdaya lain, termasuk sumberdaya alam dan lingkungan melalui investasi.

Dikatakan wilayah tertentu karena memang implementasinya hanya dapat digunakan didaerah tertentu, dimana penelusuran lapangan dilakukan, sehingga tidak mungkin diimplementasikan didaerah lain secara utuh, kecuali untuk hal-hal tertentu saja yang memiliki kesamaan kondisi dan tuntutan kebutuhan yang hampir sama.
Jenssen (1995) dalam Riyadi, Deddy Supriady Baratakusumah (2004;8) merekomendasikan bahwa perencanaan pembangunan daerah harus memperhatikan hal-hal yang bersifat kompleks tadi, sehingga prosesnya harus memperhitungkan kemampuan sumberdaya yang ada, baik sumberdaya manusia, sumber daya fisik, sumber daya alam, keuangan, serta sumber-sumber daya lainnya. Dalam konteks ini ia menyebutnya dengan istilah pembangunan endogen, atau dengan kata lain pembangunan yang berbasis potensi.
Selain itu, perencanaan yang mempertimbangkan kondisi spatial suatu daerah juga menjadi hal penting dalam proses perencanaan pembangunan daerah. Pembangunan daerah akan mencakup suatu raung tertentu, sehingga diperlukan adanya penataan ruang yang efektif, dimana tataruang akan mempengaruhi proses pembangunan beserta implikasinya.
Ciri-ciri pembangunan daerah menurut Riyadi, Deddy Supriady Bratakusumah (2004 ; 9) meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Menghasilkan program-program yang bersifat umum.

2. Analisis perencanaan bersifat makro/luas

3. lebih efektif dan efisien digunakan untuk perencanaan jangka menengah dan panjang.

4. memerlukan pengetahuan secara interdisipliner, general dan universal, namun tetap memiliki spesifikasi masing-masing yang jelas.

5. fleksibel dan mudah untuk dijadikan sebagai acuan perencanaan pembangunan jangka pendek (1 tahunan).

Dengan melihat berbagai pengertian mengenai perencanaan maupun perencanaan pembangunan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua perencanaan adalah merupakan perencanaan pembangunan. Suatu perencanaan disebut sebagai perencanaan pembangunan apabila dipenuhi berbagai ciri-ciri tertentu serta adanya tujuan yang bersifat pembangunan. Ciri suatu perencanaan pembangunan (agent of development) oleh karena perencanaan pembangunan sendiri merupakan bagian dari administrasi pembangunan yang menjadi bagian kewenangan pemerintah.

Bahwa Perencanaan Pembangunan Daerah memerlukan Koordinasi dari semua unsur yang terlibat dalam rangka menghasilkan sebuah program dan kegiatan yang holistik dan komprehensif, Selain itu Perencanaan Pembangunan Daerah harus mampu menentukan prioritas program dan kegiatan berdasarkan fakta dan data dari potensi daerahnya, serta harus mempunyai sumberdaya yang mempunyai kemampuan yang baik secara interdisipliner, sehingga koordinasi sekali lagi sangat diperlukan dalam pembuatan sebuah perencanaan pembangunan yang terintegrasi, tersinkronisasi, dan menyeluruh.


Selasa, 09 Juli 2013

POTENSI SDM MASYARAKAT OIRATA

Masyarakat Suku Oirata memiliki karekter yang berpotensi dalam hal Berwirausaha. Hal ini dapat terlihat dari semangat masyarakat dalam melakukan aktifitas perdagangan dalam skop yang kecil. Semangat dan optimisme masyarakat inilah sebenarnya menjadi modal utama untuk mewujudkan seorang wirausaha yang memiliki potensi berkembang. 
Dengan modal seadanya dan didukung oleh semangat yang tinggih banyak masyarakat yang melakukan aktifitas perdagangan dalam skala kecil dalam hal kios-kios kelontong. Barang-barang dagangan biasanya didatangkan dari Kupang dan Ambon dengan menggunakan kapal perintis yang melayari Ambon-Kisar-Kupang dan sebaliknya inilah yang dipergunakan oleh masyarak berjiwa optimis untuk membangun usaha kecil-kecilan, demi menyokong ekonomi keluarga. 
Dari catatan saya banyak masyarakat Oirata yang mengalami kebangkrutan dalam usaha dengan meninggalkan Utang yang pada pihak lain. Berdasarkan Hemat saya hal ini dikarenakan SDM masyarakat yang belum baik dalam menejement usaha, sehingga jika ini diberi pemahaman yang cukup tetang menejement usaha maka pastilah masyarakat ini akan mengalami kemajuan. Disamaping itu, rata-rata SDM masyarakat pengiat usaha pada dasarnya hanya menamatkan pendidikan SD, hal ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk begaiman mengoptimalkan potensi yang dalam diri masyarakat tersebut. 
Selain Potensi SDM yang dimiliki ada juga potensi SDA yang dimiliki masyarakat setempat, semisal potensi Sumber daya Alam pariwisat, dengan corak yang unik, pantai kiasar yang berhadapan langsung dengan Negara RTS (Repoblik Timor Leste), juga Potensi Pertanian Jeruk Manis, dan masih banyak lagi yang bisa digali menjadi potensi Ekonomi.  
Pantai Kiasar

Begitulah sepintas negeri yang memiliki julukan adatnya HORNA WERNA RUSKOLI YALURESI. semoga suatu saat masyarakat Tumbuh menjadi masyarakat yang memiliki ekonomi mapan guna menobang generasi yang memiliki prestasi baik.

USAHA PERTANIAN SUKU OIRATA

Masyarakat suku oirata pada dasarnya adalah masyarakat bertani sehingga tumpuan ekonomi masyarakat pada sektor pertanian menjadi dominan. Pertanian masyarakat tergantung pada musim penghujan, bila tiba musin penghujan rata-rata masyarakat menanam tanaman golongan palwija, (jagung, dan umbi-umbian) yang merupkan komiditas unggulan,disamping tanaman lain seperti kacang-kacangan (kacang merah, kacang ijo, kacang tanah, dll) tanaman kacang-kacangan ini umumnya ditanam berdampingan dengan tanaman jagung.
 lahan pertanian masyarakat merupakan lahan abadi yang terus menerus digunakan secara turun temurun, sehingga masyarakat oirata, mengunakan teknik pemupukan organik guna meremajakan lahan tersebut untuk memperoleh hasil tanaman yang maksimal.
pasca panen hasil pertanian dalam hal ini jagung dijemur mengunkan bantuan sinar matahari kemudian disimpan dalam bakul besar (Row) atau drum untuk menjadi cadangan makanan ketika tibah musim kemarau (kekeringan). biasanya musim kemarau datang berkisar antara bulan agustus-november.
Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi masyarakat masi bersifat subsisten, belum sampai pada tahap komersial.
Disamping tanaman pangan yang menjadi lumbun pertanian guna mengatasi masalah kelaparan, masyarakat setempat juga menggunakan lahan yang sama untuk menanam tanaman umur panjang yang bernilai ekonomis, dalam hal ini tanaman jeruk, mangga, dll. dari kesemuanya itu tanaman jeruk menjadi primadona, karena memiliki nilai jual yang cukup baik, guna mendongkrak ekonomi masyrakat. hasil dari tanaman jeruk (buah jeruk) dipasarkan pada pasar regional pada daerah NTT (kupang) dan juga ambon.
selain sektor pertanian masyarakat juga mengelola nira pohon koli untuk dijadikan Gula Merah, Alkohol berjenis Sopi, dan cuka. hasil daripada nira pohon koli inilah yang menjadi penyokong utama ekonomi masyarakat tempo dulu, yang kelebihan dalam kekurangannya digunakan untuk biaya studi generasi penerus.
 (gambar untuk Pohon Koli)
walaupun kondisi yang begitu memprihatinkan namun masyarakat setempat tidak pernah merasa kekurangan, mereka selalu bersyukur Buat Rat Lapai (Tuhan) yang selalu merahmati mereka dengan berkat yang membuat mereka bertahan hidup. Kehidupan yang begitu keras itulah yang membentuk karakter masyarakat yang penuh optimis, bersemangat pantang menyerah, dalam mengapai impian masa depan yang lebih baik. Bagi masyarkat Oirata sekali maju pantang mundur selangkah sebelum memperoleh hasil yang membanggakan.
Kehidupan yang tidak kaya dan tidak miskin selalu membuat masyarakat hidup dalam sebuah persaudaraan yang rukun dalam sebuah ikatan HORNA WERNA RUSKOLI YALURESI